Selasa, 10 Februari 2009

Kekuatan Ibu


Suatu ketika, hiduplah dua suku di pegunungan Andes. Satu suku tinggal di
lembah-lembah, sedangkan suku yang lain tinggal di atas gunung. Suatu hari,
suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa. Mereka
menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya
ke atas gunung.

Orang-orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung. Mreka tidak
tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung. Mereka tidak tahu dimana
letak desa suku gunung. Juga, tidak tahu bagaimana mengikuti jejak-jejak
suku gunung di tebing-tebing gunung itu.

Tapi, meski pun begitu, mereka mengirim para prajurit terbaik mereka untuk
memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka.

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain. Ketika prajurit
pertama gagal, mereka semua pun gagal. Mereka mencoba lagi dengan cara lain.
Namun, gagal. Setelah berhari-hari mereka mendaki, mereka hanya bisa memanjat
beberapa ratus kaki saja.

Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa. Akhirnya mereka memutuskan
untuk kembali ke desa saja. Semua upaya dilakukan namun gagal.

Ketika mereka sedang bersiap-siap untuk kembali ke desa, tiba-tiba mereka
melihat ibu dari bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati
mereka, sambil menggendong bayinya. Mereka terkejut sekali, bagaimana si
ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya?
Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing-tebing itu mengalahkan mereka?
Terlebih lagi, mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan. Bagaimana
mungkin?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya, "Wahai ibu, kami gagal
mendaki tebing ini. Bagaimana kau melakukan semua ini, mengalahkan seluruh
prajurit terkuat? Bagaimana bisa? Engkau belum pernah menjadi prajurit!"

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata, "Sebab bayi yang diculik itu bukanlah
bayimu. Dan, kalian semua belum pernah menjadi Ibu."

-(The Mountain, Jim Stovall)

***

Burung, tak pernah diajarkan manusia untuk terbang, dan Ikan, tak pernah
belajar untuk berenang. Semuanya alami, semua berasal dari naluri. Hal itu,
akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah. Hanya Allah
lah yang memberikan kita kekuatan itu.

Dan, teman, cinta memberikan kekuatan.
Sebab, cinta adalah kekuatan itu sendiri. Cinta seorang ibu adalah naluri,
adalah alami, adalah sesuatu yang hadir dalam jiwa-jiwa yang penuh rasa
cinta. Setiap Ibu, tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya.
Rasa itu akan hadir dengan sendirinya.

Kita pun, punya rasa itu. Asal
kita mau, menjalani semua garis-garis yang telah ditentukan-Nya.

Hope
you are well and please do take care

(unknown)

Senin, 09 Februari 2009

Kesempatan Yang Tersembunyi

Bila anda tak pernah melakukan kesalahan, ada baiknya anda melihat lagi langkah anda. Jangan-jangan anda tak mengalah setapak pun. Kesalahan memang tak mengenakkan, namun seorang optimis lebih banyak belajar dari kesalahan daripada dari keberhasilan. Kesalahan menuntun anda untuk mempelajari kembali sesuatu yang terjadi. Bukan cuma itu, kesalahan memimpin anda untuk mengambil tindakan yang lebih baik.

Kesalahan adalah kawan baik yang mengatakan secara samar apa yang harus anda kerjakan. Lihatlah kesalahan apa adanya. Jauhkan prasangka, kesedihan dan ratapan bila kesalahan menimpa anda. Karena, dibalik kesalahan tersimpan kesempatan yang tersembunyi.

Colombus melakukan "kesalahan" yang besar dalam perjalanannya mencari jalur ke India, yaitu menemukan benua Amerika. Namun bertahun-tahun kemudian, jutaan orang mengikuti "kesalahan" tersebut untuk menuai kemakmuran hidup mereka. Masihkah anda menganggapnya sebagai kesalahan?
(unkown)

Sabtu, 31 Januari 2009

Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat

Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman,
“Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan
perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka
selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa
yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun
hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari
Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat
kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam
Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena
barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa
lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad
no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat
dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa
yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’” (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur”
(hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad
no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah
diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan
ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)


Maraji’ :
Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Kamis, 29 Januari 2009

Nilai Sebuah Kejujuran

Kejujuran itu pahit, benarkah? Jika kita memutuskan untuk melakukan suatu kedustaan, maka kita akan melakukan ribuan kedustaan lain untuk menutupinya. Hingga suatu saat, ada kondisi di mana mau tidak mau kejujuran itu harus kita katakan, maka benarlah bahwa ia akan terasa sangat pahit. Bahkan tidak jarang, ada hal yang harus kita ikhlaskan untuk lepas dari genggaman.

Mari kita ingat tentang sebuah film yang berjudul LIAR-LIAR? Film ini berkisah tentang seorang anak yang selalu merasa dibohongi oleh ayahnya, lalu dihari ulang tahunnya dia memohon agar satu hari, hanya satu hari, ayahnya tidak dapat berkata bohong. Awalnya, semua menjadi berantakan. Keluarga, pekerjaan, interaksi dengan orang-orang tercintanya, janji-janji yang dibuat. Lalu, satu demi satu keadaan mulai membaik hingga akhirnya, semua terselesaikan tanpa perlu mementaskan satupun kebohongan. Walaupun film itu adalah rekaan semata, tapi ada pesan moral yang ingin disampaikan. Bahwa kejujuran itu tidak akan pernah membawa dampak buruk bagi kita. Jadi, kenapa kita harus takut untuk jujur.

(dikutip dari cerita seseorang)

Jumat, 23 Januari 2009

ISLAM dan LEADERSHIP

Ust Nabiel Fuad Al-Musawa


“Tidak ada seorang hamba yg dipercaya memimpin rakyatnya oleh ALLAH SWT, lalu ia mati dlm keadaan menipu rakyatnya, melainkan ALLAH haramkan Jannah baginya.”
 

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini dikeluarkan oleh :

1. Bukhari, juz-XIII/112-113. 
2. Muslim, juz III/1460, hadits no.21-22.


TAFSIR HADITS

 
Dalam ilmu psikologi sosial, teori kepemimpinan sering digunakan dalam menganalisis kelompok kecil (small groups). Dalam sosiologi umum, kepemimpinan dianalisis sebagai pengaruh kekuasaan dalam kolektifitas sosial. Max Weber[i] (1946) menulis teorinya yang sangat terkenal tentang 3 tipe kepemimpinan yang dihubungkan dengan perbedaan bentuk wewenang dan legitimasi. Pemimpin karismatik menurutnya memimpin berdasarkan kekuatan pesona dari dalam dirinya, sementara pemimpin tradisional memimpin berdasarkan adat atau status kebangsawanan yang sudah diakui oleh masyarakatnya.
Sementara pemimpin legal adalah mereka yang memimpin berdasarkan keahlian dan sesuai dengan aturan formal dalam masyarakat modern.
 
Dalam hadits di atas, Islam memperingatkan kepada para pemimpin, siapapun dia dan dari kelompok manapun dia dan berapapun orang yg dipimpinnya agar hendaklah menjauhkan diri sejauh2nya dr MENIPU RAKYAT ataupun menipu bawahannya. Di dalam hadits yang lain juga ditegaskan oleh nabi SAW bahwa setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya pada Hari Kiamat kelak[ii]. Bahkan di dalam salah satu riwayat nabi SAW melaknat pemimpin yang dipercaya untuk mengurus urusan ummat lalu ia malah menyengsarakan mereka, sebagaimana dalam sabdanya SAW :
“Ya ALLAH, siapa saja yg diberikan kekuasaan untuk mengurusi ummatku lalu ia menyengsarakan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja yang diberi kekuasaan lalu ia mempermudah mereka, maka mudahkanlah ia[iii].” Dan Islam menyatakan bahwa pemimpin yang tidak memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinan ummat maka ALLAH SWT tidak akan memperhatikan kebutuhan, kedukaan dan kemiskinannya pada Hari Kiamat kelak[iv].
Islam menempatkan pemimpin yang adil dan amanah dalam derajat manusia yang tertinggi, yang memperoleh berbagai penghargaan dan kehormatan. Diantaranya ia termasuk kelompok pertama yang dinaungi oleh ALLAH SWT diantara 7 kelompok utama yang dinaungi-NYA pada Hari Kiamat kelak[v], iapun akan berada di atas mimbar dari cahaya nanti di Hari Kiamat[vi]. Dan pemimpin yang demikian akan senantiasa dicintai dan didoakan oleh rakyatnya karena kebijaksanaannya memimpin rakyatnya[vii].
Sehingga dalam salah satu haditsnya, nabi SAW sampai menyatakan bahwa pemimpin yg demikian termasuk 3 golongan manusia yang paling utama dan paling berhak masuk Jannah, disamping yang kedua adalah orang yang lembut dan penyayang pada keluarganya dan orang miskin yang menjaga dirinya dari meminta2[viii].

Oleh karena itu di dalam Islam pemimpin yang memiliki sifat2 sebagaimana disebutkan diataslah yang berhak dan wajib untuk ditaati (tafsir QS An-Nisaa’, 4:59) dan bukan pemimpin yang memiliki sifat sebaliknya, jika ia memiliki sifat sebaliknya maka tidak wajib sama sekali untuk didengar dan ditaati[ix] (dalam ayat di atas, sebenarnya juga disebutkan bahwa syarat taat pada pemimpin adalah mu’allaq/tergantung pada apakah ia taat pada ALLAH SWT dan Rasul SAW atau tidak, dimana cirinya adalah ia senantiasa kembali kepada ALLAH SWT dan rasul-NYA SAW jika terjadi perbedaan pendapat ataupun perselisihan). Sehingga pemimpin yang memiliki sifat demikian maka ia sebenarnya telah menjadi pewaris nabi SAW yang wajib ditaati, sebagaimana sabda nabi SAW : “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka sama dengan taat kepada ALLAH, dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku maka ia sama dengan tidak taat kepada ALLAH, barangsiapa yang taat kepada pemimpin (yg sesuai dg syariat) maka ia sama dg taat kepadaku dan barangsiapa yg tdk taat kepada pemimpin (yg sesuai dg syariat) maka ia sama dg tdk taat kepadaku[x].” 

Dan ketaatan kepada pemimpin yg adil dan menjalankan syariat adalah WAJIB, barangsiapa yg keluar dr ketaatan atas pemimpin yg demikian maka ia akan bertemu ALLAH SWT pd Hari Kiamat nanti tanpa punya alasan apapun untuk membela dirinya[xi].
Tentang siapa pemimpin itu Islam tdk membatasi ia dr ras dan kelompok apapun, asal mengikuti dan menegakkan syariat maka wajib ditaati, sekalipun ia adalah seorang yg berkulit sangat hitam yg kepalanya bagaikan buah2 anggur[xii] (saking hitamnya).
Islam oleh karenanya tdk membeda2kan warna kulit, ras ataupun bahasa dlm masalah kepemimpinan, yg dinilai adalah ketaqwaannya dlm menjalankan aturan dan syariat ALLAH dan kemampuannya memimpin. Dan bagi mereka yg meremehkan pemimpin yg adil dan menghinanya, maka ALLAH SWT pun akan menghina dan meremehkannya[xiii]. 

Seorang pemimpin yg adil tentunya akan memilih pembantu2, wakil2 dan menteri2 yg adil pula. Tidak mungkin seorang yg baik akan mengangkat atau memilih wakil dan menteri yg merupakan para musuh ALLAH SWT, seperti para koruptor, kaum oportunis apalagi para kolaborator asing (QS al-Mumtahanah, 60:1). Karena tidak ada gunanya berpura2 membela Islam atau seolah2 tiba2 menjadi muslim yg sangat taat, karena kaum muslimin yg cerdas akan bisa menilai siapa saja teman2 mereka dahulunya, dan siapa orang2 yg dekat dg kelompok2 mereka (sblm ada maunya), atau bagaimana sikap mereka terhadap para ulama serta hukum syariat. Benarlah pernyataan pemimpin abadi kita nabi Muhammad SAW : “Jk ALLAH SWT menghendaki kebaikan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya menteri2 yg jujur, (yaitu) yg jk ia khilaf maka selalu mengingatkan dan jk ia ingat maka selalu dibantu/didorong. Dan jk ALLAH SWT menghendaki keburukan kepada seorang penguasa, maka IA akan memberikan untuknya para menteri yg jahat. Jk penguasa itu lupa, maka tdk diingatkan dan jk ia ingat maka tdk didorong/dibantu[xiv].” 

Waj’alna lil muttaqina imama...
 

-------------------------------------------------------------------------------

[i] From Max Weber : Essay in Sociology (1946), London, Routledge & Kegan Paul,
edited by H.H Gerth & C.W. Mills.

[ii] HR Bukhari II/317 juga XIII/100; dan Muslim no. 1829; dan Abu Daud no. 2928.

[iii] HR Muslim no. 1828.

[iv] HR Abu Daud no. 2948; Tirmidzi no. 1332; al-Hakim IV/93-94; menurut Imam
al-Mundziri sanad-nya shahih krn ada syahid dr hadits Muadz ra yg diriwayatkan oleh
Ahmad V/238-239; demikian pula menurut Albani dlm ash-Shahihah no. 629.

[v] HR Bukari II/119 dan 124; Muslim no. 1031.

[vi] HR Muslim no. 1827; Nasa’i VIII/221; Ahmad II/160.

[vii] HR Muslim no. 1855.

[viii] HR Muslim no. 2865

[ix] HR Bukhari XIII/109; Muslim no. 1839; Abu Daud no. 2626; Tirmidzi no. 1707;
Nasa’i VII/160.

[x] HR Bukhari XIII/99; Muslim no. 1835; Nasa’i VII/154.

[xi] HR Muslim no. 1851.

[xii] HR Bukhari XIII/108.

[xiii] HR Tirmidzi no. 2225 dan ia berkata hasan dan disepakati oleh Imam
al-Mundziri; Ahmad V/42; Thayalisi II/167.

[xiv] HR Abu Daud no. 2932, dg sanad yg baik menurut syarat Muslim; juga Nasa’i
VII/159 dg sanad yg shahih.

Kamis, 09 Oktober 2008

Taqabbalallaahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin

Seluruh keluarga kami mengucapkan :

"Selamat Raya Idul Fitri 1429 Taqabbalallaahu minna wa minkum Kullu amin wa antum bi khoiriin Minal aidin wal faidzin Mohon maaf lahir dan batin
."

Semoga Allah menjadikan kita pemenang melawan segala hawa nafsu, menerima segala amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita dan menjadikannya kembali fitrah, melimpahkan segala berkah, rahmah dan ampunan-Nya dan mempertemukan kita kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya. Aamiin.

Senin, 29 September 2008

Renungan Akhir Ramadhan


Rasullullah SAW bersabda:

Andaikan Umatku tahu akan rahasia keistimewaan bulan Ramadhan yang dikabulkan, doa-doa mustajab (dipenuhi), segala dosa diampuni dan surga merindukan mereka' Kini Ramadhan memasuki hari-hari akhirnya. Perlahan tapi pasti, bulan yang mulia ini akan berpisah dengan kita. Ada keharuan, kesedihan dan pengharapan di penghujung bulan yang penuh berkah ini. Haru dan sedih dikarenakan kita akan berpisah dengan penghulu segala bulan. Harapan dihati kiranya Allah mengampuni salah dan dosa, menerima amal kebajikan serta memberikan kita kesempatan untuk bertemu diramadhan tahun yang akan datang dengan keadaan yang lebih baik dari tahun ini. Dalam satu Hadits Qudsi Allah berfirman :
'Segala amal perbuatan manusia adalah hak miliknya, kecuali puasa, sebab puasa adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.'

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan magfirah-Nya agar kita dapat meningkatkan kualitas iman sehingga akan didapatkan kesudahan perbaikan hidup yang diberikan Allah di dunia dan di Akhirat kelak. Amin Ya Robbal Alamin.